Bangsa dan Realitas Negara-Bangsa
Bangsa dan Realitas Negara-Bangsa
Konsepsi ‘bangsa’ memiliki dua warna: yang kesatu ‘bangsa’ khususnya dikenal dan terkenal dengan kelompok yang belum punya negara dan berupaya membentuk negara, maka definisi bangsa dan kebangsaan sepenuhnya dikembangkan dalam rangka usaha memiliki sebuah negara. Konsepsi kedua ialah loyalitas “kewarga-negaraan” (civic) sering diletakkan dalam kategori yang terpisah di bawah judul “patriotisme” saja atau “patriotisme konstitusional.” Hal inilah yang akan diulas sebagai konsepsi ‘bangsa’ secara subyektiv dalam bagian berikut.
Di satu sisi, kita lihat di sini kleim nasionalis klasik yang etno-bangsa lebih umum difokuskan pada asal-usul, bahasa, tradisi dan budaya yang dinikmati secara umum tanpa sukarela karena kesamaan mereka, dengan umumnya satu bahasa dan adat yang sama (ibid.) dan juga sering memiliki wilayah pendudukan (tanah air) yang sama. Inilah yang ada di Papua Barat. Tetapi kalau kita perhatikan opsi lain yang diajukan sedikit teoretisi namun paling dikenal (misalnya Renan 1882 dan M. Weber 1970 serta Brunbaker 2004) yang mengatakan:
a nation is any group of people aspiring to a common political state-like organization. If such a group of people succeeds in forming a state, the loyalties of the group members might be “civic” (as opposed to “ethnic”) in nature. (STANFORD ENCYCLOPEDIA OF PHILOSOPHY, NATIONALISM: WHAT IS A NATION?, DI )
[Artinya: sebuah bangsa adalah kelompok manusia mana saja yang beraspirasi organisasi politik negara secara umum. Jika kelompok seperti ini berhasil dalam membentuk sebuah negara, loyalitas dari para anggota kelompok itu dapat disebut bercorak “civic” (bertentengan dengan yang “etnis”).
Jadi, dalam konsepsi ini kita lihat ‘bangsa’ terkait dengan dan sisi pertama etnik, wilayah dan budaya, dan sisi kedua berfokus pada loyalitas politik kepada negara-bangsa (sipil). Perbedaan di sini berhubungan dengan (walaupun tidak semuanya sama) sekolah pemikiran ilmu-ilmu sosial dan politik yang lebih tua yang membedakan nasionalisme “civic” dan “etnik.” Yang civic berhubungan dengan nasionalisme di Eropa Barat dan yang kemudian tampil di Eropa Tengah dan Timur dengan pertama-tama muncul di Jerman (pendukung utama dalam pembedaan ini adalah Hans Kohn 1965). Nasionalisme civic berakar kepada pemikiran tentang kesamaan etnik dan budaya, tetapi kesamaan dimaksud dipupuk oleh alat pemersatu baru, yaitu keinginan membentuk negara-bangsa sendiri. Keinginan ini menjadi alat pengikat terkuat yang melahirkan nasionalisme. Contoh yang paling jelas adalah pembentukan negara Perancis dan A.S. Sementara nasionalisme yang berkembang di tempat lain lebih berwujud nasionalisme etnik, di mana rasa kebangsaan terwujud atas dasar rasa satu ras, satu etnik, yang mendorong pembentukan negara-bangsa. Papua Tribesman
http://papuapost.com, http://www.infopapua.org,
http://westpapua.net, http://malanesianews.org
Mobile: +353(0)86374 6379, Fax: +353 404 46400
Mail: Papua Press Agency, International Desk, c/o 54 Evora Park,HOWTH, Co. Dublin, Republic of Ireland
Jadi, dalam konsepsi ini kita lihat ‘bangsa’ terkait dengan dan sisi pertama etnik, wilayah dan budaya, dan sisi kedua berfokus pada loyalitas politik kepada negara-bangsa (sipil). Perbedaan di sini berhubungan dengan (walaupun tidak semuanya sama) sekolah pemikiran ilmu-ilmu sosial dan politik yang lebih tua yang membedakan nasionalisme “civic” dan “etnik.” Yang civic berhubungan dengan nasionalisme di Eropa Barat dan yang kemudian tampil di Eropa Tengah dan Timur dengan pertama-tama muncul di Jerman (pendukung utama dalam pembedaan ini adalah Hans Kohn 1965). Nasionalisme civic berakar kepada pemikiran tentang kesamaan etnik dan budaya, tetapi kesamaan dimaksud dipupuk oleh alat pemersatu baru, yaitu keinginan membentuk negara-bangsa sendiri. Keinginan ini menjadi alat pengikat terkuat yang melahirkan nasionalisme. Contoh yang paling jelas adalah pembentukan negara Perancis dan A.S. Sementara nasionalisme yang berkembang di tempat lain lebih berwujud nasionalisme etnik, di mana rasa kebangsaan terwujud atas dasar rasa satu ras, satu etnik, yang mendorong pembentukan negara-bangsa. Papua Tribesman
http://papuapost.com, http://www.infopapua.org,
http://westpapua.net, http://malanesianews.org
Mobile: +353(0)86374 6379, Fax: +353 404 46400
Mail: Papua Press Agency, International Desk, c/o 54 Evora Park,HOWTH, Co. Dublin, Republic of Ireland